oleh

ANDI AMRAN SULAIMAN: Role Model Revolusi Mental (Bagian I)

Editor : Any Ramadhani-Opini-

Mujiburrahman.B, S.Sos.I, M.Si
Anggota DPRD Kota Makassar, 2009-2014.

Bulan Juli 2014 adalah masa terakhir pengabdian sebagai wakil rakyat di kota Makassar. Saat itu, saya sedang mencermati hasil kontestasi pemilu caleg 2014 yang berakhir konflik sampai ke MA. Di tengah meredanya tensi politik pasca pilcaleg dan pilpres, ada satu tagline yang menjadi pusat perhatian saya termasuk masyarakat kota Makassar, yaitu “Sahabat Rakyat”.

Di belakang tagline tersebut ada satu nama yang sering disebut oleh orang-orang ataupun media dengan nama Andi Amran Sulaiman, sisi lain yang di ketahui beliau dipanggil pak doktor karena penelitian yang fenomenal sebagai penemu racun tikus. Sesingkat itu saya mengenal beliau, dan seperti biasanya saat mengenal orang baru, tak ada yang istimewa selain beliau dikenal sebagai koordinator umum Relawan Sahabat Rakyat KTI (Kawasan Timur Indonesia) yang berhasil mendongkrak suara untuk Jokowi-JK pada pilpres 2014. Relawan Sahabat Rakyat KTI merupakan Tim Pemenangan terbesar di kawasan Timur Indonesia, besutan Andi Amran Sulaiman.

27 Oktober 2014 bertempat di istana negara, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman. MP di lantik menjadi Menteri Pertanian. Nama beliau yang baru dikenal mulai mengusik ruang tanya, menelusuri jejak diskusi warung kopi di kota Makassar nama beliau banyak disebut di sana. Rasa ingin tahu dan penasaran ini menyasar sampai bongkar file berita-berita saat masa kampanye yang telah berlalu. Ternyata beliau mampu memecahkan rekor mengumpulkan massa dengan gerak jalan santai terbesar di Makassar, menjemput pak Jokowi dengan cara populis menggunakan mobil kijang super saat masa kampanye, jaringan tim yang kuat sampai ke Indonesia Timur, menguasai teknologi pertanian, investasi tambang di Kalimantan, doktor ilmu pertanian di UNHAS, penerima kehormatan satyalancana pembangunan di bidang wirausaha pertanian dari presiden SBY pada tahun 2007 dan penghargaan FKPTPI Award di tahun 2011. Semua informasi itu saya serap sebagai bahan diskusi ringan di warkop, bahkan gebrakan awal dan kebijakan populis beliau di awal memimpin kementerian pertanian menjadi bahan materi diskusi publik di kota Makassar.

Saat menjabat menteri pertanian beliau memang dikenal banyak orang, tapi hanya sedikit yang mengetahui kisah hidupnya yang mengagumkan; visioner, berani dan penuh percaya diri. Menggenggam takdir sebagai Menteri Pertanian RI tahun 2014-2019 adalah buah dari ikhtiar dan kualifikasi keilmuannya terhadap pengembangan sains dunia pertanian. Andi Amran Sulaiman adalah tokoh nasional yang berada pada posisi “Rating A” dibutuhkan oleh negara.

Saya pun mulai mengikuti perkembangan berita dan akun sosmed beliau, diam-diam menjadi fans karena jarang sekali didapati seorang akademisi-pengusaha, praktisi sekaligus politisi yang hanya membutuhkan waktu singkat untuk menjadi orang diperhitungkan di republik ini. Bahkan, di media cetak, elektronik dan online terbuka fakta dari hasil pemeriksaan LHKPN beliau adalah menteri terkaya, sebuah prestise yang membuat orang berdecak kagum. Ternyata sebelum terjun ke politik, belasan tahun beliau malang melintang di dunia usaha dan mendirikan Holding Company dengan nama TIRAN Grup. Masyarakat meyakini bahwa menteri yang berlatar belakang ekonomi mumpuni pasti tidak akan bermain-main dengan uang negara, bisa dipastikan semata-mata hanya untuk pengabdian bukan untuk memperkaya diri sendiri.

Tahun 2018, penulis mengenal AAS lewat seorang sahabat pengusaha muda asal Bone yang akrab dipanggil ketua YM (H. Yasir Machmud). Ketua YM adalah sahabat dan mitra diskusi “puang amran”, panggilan arung untuk keturunan raja dan bangsawan bugis. Puang amran adalah keturunan La Tenri Tappu Raja Bone ke-23.

Saya mengenal beliau secara nyata dalam cerita panjang pak ketua dan mengajak saya ikut agenda beliau, memang benar pak mentan adalah sosok yang piawai dalam mengembangkan konsep pertanian. Masih teringat dengan pesan beliau di hadapan para petani; “kalau mau sukses, jangan lihat matahari dirumah”, sebuah pernyataan yang sangat filosofi dan kita kenal sebagai konsep jati diri lelaki Bugis-Makassar. Dia menegaskan, bahwa; tanah air kita adalah tanah yang dirahmati dengan hasil bumi yang melimpah, cara tradisional mesti di padu dengan teknologi modern dan hasilnya dikelola dengan jujur untuk menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia. (*)