oleh

Pemilu 2024, Ujian Partai Baru

Editor : Any Ramadhani-Headline, Politik-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Tidak mudah bagi partai politik baru hadir dan bertahan dalam konstelasi politik Indonesia yang kompetitif. Figur, basis massa, dan tentu kekuatan finansial menjadi sesuatu yang turut menentukan masa depan partai.

Sejauh ini ada dua partai baru yang mulai tancap gas dan dikenal masyarakat. Partai Gelora dan Partai Ummat. Sementara partai baru lainnya seperti Partai Idaman, Germas dan lain-lain harus kerja keras.

Sekretaris DPW Gelora Sulsel, Mudzakkir Ali Djamil mengatakan, berdasarkan hasil rakernas dan rapimnas, Partai Gelora sudah tegas menyepakati untuk meningkatkan elektabilitas mengahadapi Pemilu 2024 nanti.

“Semua instrumen partai kami sudah maksimalkan. Tahun 2024 menjadi agenda yang cukup padat bagi Partai Gelora, termasuk berbagai strategi, termasuk menguatkan kader,” ujarnya, Rabu (16/6/2021).

Dia mengatakan, partainya sejak tahun lalu sudah fokus menyelesaikan kekuatan teritori partai hingga tingkatan desa/kelurahan agar bisa lolos di Pemilu 2024.

“Pemilu 2019 tidak ada partai politik baru yang lolos (ke DPR). Itu karena tidak memiliki kekuatan teritori yang kuat meskipun punya dukungan dana dan media yang memadai. Belajar dari itulah, sejak tahun lalu kami fokus menyelesaikan teritori,” kata dia.

DPW Gelora Sulsel menargetkan merekrut 100 ribu kader se-Sulawesi Selatan pada Oktober 2021 ini. “Target kita hingga Oktober 2021, jumlah keanggotaan Partai Gelora Sulsel mencapai 100 ribu KTA,” kata Mudzakkir Ali Djamil.

Muda, sapaan akrabnya mengatakan, dalam kurun waktu 2 bulan sejak April hingga Mei 2021, ada 11 ribu lebih masyarakat Sulsel mendaftar dan memiliki KTA Gelora. Mereka tersebar di 24 kabupaten/kota. Sementara secara nasional keanggotaan Partai Gelora telah menembus angka 200 ribu lebih anggota yang memiliki KTA.

Muda mengklaim setiap hari ada ratusan warga yang bergabung di Gelora Sulsel. Untuk itu, ia optimistis mampu merekrut 100 ribu kader pada Oktober 2021 ini.

“Insya Allah ini akan kita capai. Kita ingin jangkauan keanggotaan Partai Gelora Sulsel hingga ke pelosok desa. Harapan kita, seluruh kelurahan desa tersentuh dan merasakan kehadiran Partai Gelora,” ujar Muda.

Mantan anggota DPRD Kota Makassar mengaku, belum lama ini sebuah lembaga survei telah merilis hasil surveinya. Salah satu temuannya Partai Gelora disebutkan memperoleh popularitas dan elektabilitas tertinggi diantara partai baru di Indonesia.

“Ketokohan figur nasional maupun lokal di sulsel juga sangat berpengaruh terhadap popularitas dan elektabilitas Partai Gelora,” jelasnya.

Sekretaris DPW Partai Ummat Sulsel, Mahyuddin mengatakan, saat ini partainya tengah fokus lolos verifikasi sebagai Parpol oleh Kementerian Hukum dan HAM. “Untuk saat ini kita sementara fokus dulu untuk menghadapi verifikasi dari Kementerian Hukum dan HAM,” katanya.

Khusus di Sulsel kata dia, pengurus Partai Ummat sudah hampir rampung pada 24 kabupaten/kota. “Di Sulsel sebenarnya hampir rampung (24 kabupaten/kota). Kurang lebih 22 daerah yang sudah fiks pengurusnya,” jelasnya.

Pada Pileg 2024 mendatang, pihaknya menargetkan satu fraksi setiap DPRD kabupaten/kota. “Olehnya itu, kami terus melakukan konsolidasi dengan harapan Partai Ummat sampai diakar rumput,” tegasnya.

Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Prianto mengatakan, tidak ada faktor tunggal untuk pencapaian elektorat sebuah partai politik. “Semua kembali pada persediaan suberdaya, daya adaptasi dan pengorganisasian kekuatan, pada sistem politik elektorat kita yang semakin oligarki,” katanya.

Dirinya menyebutkan, partai-partai baru ini harus punya diferensiasi dengan partai lama, terutama dengan “partai induk”.

“Terutama kalau mereka memperebutkan basis elektorat yang sama. Mesti jelas variabel pembeda pada aspek kepemimpinan, suberdaya politik dan konten isu yang perjuangkan,” ujarnya.

“Ketokohan pemimpin setidaknya di tandai dengan penguasaan modal dan suberdaya politik. Ketokohan pemimpin menjadi variabel modal politik strategis, dalam sistem sosial politik yang paternalistis,” lanjutnya.

Dirinya menyebutkan jika melihat pencapaian elektorat partai politik di Sulsel hingga Pemilu 2024 terakhir, determinasi oligarki semakin lama semakin dominan. “Partai-partai politik yang menawarkan idealisme, semakin sulit berkompetisi dengan partai yang mengandalkan pragmatisme, seperti kekuatan tokoh populis dan penguasaan kapital,” bebernya.

Tanpa “dentuman” dalam kepimpinan, partai-partai politik baru ini akan sulit menjejakkan warna dalam lanskap politik lokal di Sulsel. (*)