oleh

Waspada Varian Baru Covid-19

Editor : Any Ramadhani-Headline, Metro-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar berkomitmen untuk mengantisipasi penularan varian baru dari Covid-19. Varian baru Covid-19 yang disebut Alpha (B.1.1.7), Beta (B.1.351), dan Delta (B.1.617.2) sudah menyebar di Indonesia.

Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan “Danny” Pomanto mengatakan, Pemkot tengah berupaya untuk mencari alat pendeteksi dari varian baru tersebut.

“Saat ini yang diupayakan ada minimal reagen PCR. Kita mau hadirkan yang bisa deteksi langsung,” kata Danny, Minggu (20/6/2021).

Menurut Danny, alat pendeteksi tersebut masih sulit didapatkan, namun dia tetap berupaya menghadirkan secepatnya. Sebab, alat itu ada yang diimpor dari Jerman, Korea, Inggris, Jepang, dan Tiongkok.

Danny menyampaikan, pengadaan alat ini sangat urgen. Sebab, hingga saat ini belum ada alat yang bisa deteksi varian baru di Makassar. Sementara dugaan adanya varian baru itu terus ada. Terutama dari klaster pekerja apartemen yang lalu. Selain itu, dari banyaknya orang dari luar Sulawesi yang masuk ke Makassar.

Terpisah, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Diskes Sulsel, Nurul AR menyampaikan, hingga saat ini hasil dari sampel dugaan varian baru belum keluar di Kementerian Kesehatan.

“Kita masih menunggu yang 37 sampel itu,” katanya.

Dia menyampaikan, saat ini masih belum diketahui karena banyaknya sampel dianalisis. Memang sangat dibutuhkan ada alat di Sulsel dan Makassar pada khususnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, Andi Khadijah Iriani mengatakan, untuk mendeteksi varian baru Covid-19 pihaknya sedang mengupayakan laboratorium tersebut di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Makassar atau di Rumah Sakit Daya.

“Kalau kita Makassar, insya Allah kita sementara mengupayakan laboratorium yang dapat mendeteksi varian-varian baru, ini sementara kita upayakan di RS Daya,” ujarnya.

Kata Ia, laboratorium di RSUD Daya diklaim akan menjadi yang pertama mendeteksi varian baru untuk wilayah Makassar. Pasalnya selama ini deteksi varian baru hanya dilakukan di Litbangkes Jakarta.

“Pak Wali ini benar-benar memperhatikan karena beliau memang menyampaikan bahwa harus sekarang selesaikan itu laboratorium yang di Rumah Sakit Daya, kemudian kita dapat memeriksa varian-varian baru dari Covid-19,” jelasnya.

Sebelumnya, Kepala bidang pengembangan profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Masdalina Pane mengatakan virus Covid-19 yang berkembang di Indonesia saat ini merupakan varian Delta yang berasal dari India.

Jenis ini, kata dia, memiliki mutasi atau penyebaran yang lebih cepat walaupun virulensi atau keganasannya relatif lebih rendah. Masda menegaskan, varian inilah yang mendorong hampir empat provinsi di pulau Jawa kini menjadi zona merah kembali.

Sementara itu, untuk wilayah Bali, tidak terjadi lonjakan, namun berdasarkan temuan terakhir pada orang meninggal akibat Covid-19, ternyata diakibatkan varian B.1.351 asal Afrika Selatan. Pada Mei 2021, Kemenkes juga menyatakan varian Alpha juga sudah ditemukan di Indonesia dan saat ini merupakan varian yang paling banyak dilaporkan oleh orang dari berbagai negara.

Sekadar diketahui, virus Covid-19 varian Alpha (B.1.1.7) menyebar lebih mudah dan lebih cepat. Varian B117 memperlihatkan karakteristik hilangnya gen 69 dan 70 yang membuat virus baru itu mempunyai kemampuan replikasi dan penularan dua kali lebih cepat.

Adapun virus Covid-19 varian Beta (B.1.351) muncul dengan jumlah mutasi yang luar biasa besar di Afrika Selatan. Karena varian tersebut menyebar lebih cepat daripada varian virus Alpha dan kemungkinan besar memicu adanya gelombang kedua pandemi di negara tersebut.

Virus ini memiliki mutasi N501 yang menyebabkan varian ini lebih menular. Varian Afrika Selatan juga memiliki beberapa mutasi penting lainnya yang telah mengubah bentuk protein lonjakan virus. Beberapa mutasi ini, termasuk yang dikenal sebagai E484K, telah membuat varian lebih resisten terhadap antibodi yang dipicu oleh infeksi Covid-19 sebelumnya atau vaksin Covid-19 tertentu.

Sementara itu, varian Delta (B.1.617.2) adalah salah satu jenis mutasi virus Covid-19 yang sudah ditemukan di Indonesia. Varian ini diteliti oleh Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM) berdasarkan kasus di Kudus, Jawa Tengah.

Menurut hasil penelitian UGM, ditemukan 28 dari 34 atau sekitar 82% merupakan varian Delta (B.1.617) dari Covid-19. Gejala umum virus corona Covid-19 yang dilaporkan sejak awal pandemi adalah hilangnya penciuman atau rasa, batuk terus-menerus, dan demam. (*)