oleh

Merusak Lingkungan, Tambang di Bantaran Sungai Je’ne Berang Minta Dihentikan

Any Ramadhani and Hikmah-Gowa-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM- Maraknya aktivitas tambang di seputaran sungai Je’ne Berang disinyalir menjadi biang kerusakan parah bagi lingkungan.

Akibat aktivitas tambang tersebut, sungai yang mengaliri 8 Kabupaten dan 1 Kota di Sulawesi Selatan ini mengalami pengikisan yang kuat dugaan menjadi dalang dari banjir tahunan di Kabupaten Gowa.

Lembaga Poros Rakyat, salah salah satu LSM yang memperjuangkan keselamatan lingkungan di seputaran Sungai Je’ne Berang mengambil langkah untuk melakukan pengaduan terhadap dugaan pengrusakan lingkungan tersebut.

Salah Satu Aktivis Lembaga Poros Rakyat, Muhammad Ainun Ajib dalam rapat aduan yang digelar di Kantor BPPHLHK/GAKKUM Sulawesi Selatan, Senin ( 21/6) mengungkapkan seputar kondisi Je’ne Berang yang memprihatinkan akibat aktivitas tambang yang dilakukan puluhan perusahaan.

“Kita melihat Bahwa aktivitas tambang di bantaran Sungai Je’ne Berang saat ini ada yang legal dan ada yang ilegal. Kehadiran kami disini sifatnya memverifikasi, dan meminta agar penambang yang tidak resmi harus diproses secara hukum,” ujar Ainun.

Lebih detail Ainun merincikan beberapa kerusakan fisi yang dialami sungai Je’neberang.

“Terjadinya pengikisan di daerah sungai sampoket (sp 1 sampai 2 sedang aturannya, penambangan sungai tidak boleh sampai sp 1 dan 2,” tegas Ainun

Menanggapi aduan dari Lembaga Poros Rakyat, Wakil Bupati Gowa Abd Rauf Malaganni Krg Kio mengungkapkan akan mencari solusi dan menindak perusahaan tambang jika memang ditemukan pelanggaran.

“Kegiatan hari ini untuk mencari solusi, bagaimana kita sama sama baik, baik untuk Perintah Daerah, Pemerintah Provinsi maupun stakeholder lainnya, dan tentunya untuk mencari solusi bagaimana sungai jeneberang tidak menjadi rusak,” ujarnya.

Dari hasil rapat aduan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Ketua Lembaga Poros Rakyat M Jafar Sidik dg Emba mengatakan beberapa tim dari berbagai elemen pemerintahan akan turun langsung dan tim lainnya akan memeriksa kerusakan lingkungan yang terjadi, terutama yang disebabkan oleh beberapa perusahaan yang melakukan penambangan di bantaran sungai.

“Sungai Je’ne Berang ini harus kembali ke fungsinya dan berjalan sesuai kehendak alam. Kami tidak melarang proses tambang tetapi penambang harus tau bagaimana menambang yang baik, benar dan tidak merusak lingkungan,” tegas Jafar. (*)