oleh

IAS Ingin Musda Demokrat Happy Ending

Editor : Any Ramadhani-Politik-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Musyawarah daerah (Musda) Demokrat Sulsel bakal mempertemukan Ni’matullah (Ulla) dan Ilham Arief Sirajuddin (IAS). Ulla ialah petahana saat ini, sementara IAS merupakan mantan Ketua Demokrat Sulsel.

Keduanya memastikan diri akan maju di arena pemilihan ketua baru yang hingga kini belum mendapat jadwal pasti dari DPP Demokrat.

IAS yang juga mantan Wali Kota Makassar menegaskan akan berjuang semaksimal mungkin agar Musda akan datang tidak melahirkan perpecahan internal.

“Itu sudah jadi tekad saya. Kedepankan konsolidasi yang lebih condong pada upaya konsolidasi. Insya Allah jika saya dan Ni’matullah bergandengan tangan untuk Demokrat, akan menjadi kekuatan yang jauh lebih diperhitungkan tetimbang harus terpecah,” ujar IAS, Selasa (29/6/2021).

IAS meginginkan agar Musda kelak berlangsung berjalan aman, tanpa ada riak-riak yang dapat memecah para kader. “Saya tak ingin menciderai pasca Musda. Maksdnya saya tak ingin ada kader yang pindah partai pasca Musda karena tidak menerima hasil tersebut,” ucapnya.

Ilham Arief Sirajuddin juga sempat mengumpulkan 14 dari 24 ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat se-Sulawesi Selatan di Hotel Rinra, Makassar. IAS mengakui pertemuan itu adalah ajang silaturahmi.

“Namanya silaturahmi hal biasa. Kita kan sesama kader Demokrat, apalagi Musda semakin dekat tentu harapan Partai Demokrat ke depan lebih baik,” jelas IAS.

Menurutnya, jalinan komunikasi dengan DPC selaku pemegang hak suara sangatlah penting. “Saya kira jalinan komunikasi sangat penting. Mengingat DPC sebagai pemilik hak suara di Musda perlu adanya kebersamaan,” ungkapnya.

Adapun 14 ketua DPC yang hadir yakni Maros, Pinrang, Parepare, Soppeng, Wajo, Luwu, Bulukumba, Sinjai, Barru, Toraja Utara, Jeneponto, Bantaeng, Luwu Utara dan kota Palopo.

Upaya lain, IAS baru-baru ini menemui Ni’matullah dan ngobrol empat mata, Sabtu malam pekan lalu, di Swiss Bell Panakkukang. Pertemuan itu menjadi sinyal kuat Ilham dan Ni’matullah akan bergandengan apapun hasil Musda mendatang.

“Kalau orang lihat dari luar seakan-akan kami bersaing dan bergesekan. Tapi saya merasa tidak demikian. Komunikasi kami sangat intens. Komunikasi chatting lancar, pertemuan juga sering. Soalnya, saya dan Ni’matullah kan sama-sama cinta Demokrat,” pungkasnya.

Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Maros, H Amirullah Nur Saenong, yang hadir pertemuan bersama IAS mengakui adanya pembicaraan soal dukungan di Musda. “Ada pertemuan, kami sepakat meminta “IAS reborn”. Dia harus kembali memimpin Partai Demokrat Sulsel ke depan,” jelasnya.

Diakui pertemuan dengan IAS di Hotel Rinra kemarin, 14 ketua-ketua DPC selaku pemilik suara sah di Musda Demokrat 2021. Telah sepakat meminta IAS alias Aco untuk reborn memimpin Demokrat Sulsel, lima tahun depan.

“Sebagian DPC tak hadir, tapi bagi kami hadir IAS sudah tak perlu diragukan loyalitasnya dan komitmennya terhadap Demokrat. Semua orang tahu, Demokrat Sulsel pernah disegani saat IAS menjadi Ketua DPD,” kata Amirullah.

Selain itu, lanjut Amirullah, para ketua-ketua DPC yakin manajemen dan kaderisasi partai bisa berjalan kalau IAS kembali diberikan amanah memimpin Demokrat.

“Sehingga kontestasi Pemilu 2024 nanti, bisa dengan mudah dimenangkan dan kursi Ketua DPRD Sulsel bisa diduduki kader Partai Demokrat,” tuturnya.

Ia juga berharap, DPP Partai Demokrat nanti, akan menetapkan IAS sebagai Ketua definitif setelah melalui tahapan Musda dan mendapat dukungan mayoritas suara DPC.

“Partai Demokrat kan partai yang dikenal sangat demokratis, sehingga DPP pasti akan memilih ketua yang paling banyak didukung DPC. Komitmen ini tidak usah diragukan ke DPP,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua DPC Demokrat Enrekang, Emil Salim P Kulle mengaku pihaknya mendukung Ni’matullah. Surat dukungan pun sudah diserahkan kepada wakil ketua DPRD Sulsel tersebut.

“Ada yang dianut (didukung) toh. Sudah Iye. Sudah diserahkan dukungan. Saya belum tahu pasti, tapi ada 9 (yang ikut mendukung Ulla),” katanya.

Emil tak tahu pasti DPC mana saja yang komitmen memberikan dukungan ke Ni’matullah. Namun setahunya yakni Bone, Kepulauan Selayar, Luwu Timur dan Takalar.

Dia menjelaskan punya pertimbangan khusus kenapa mendukung Ni’matullah di Musda Demokrat Sulsel. Emil memandang loyalitas Wakil Ketua DPRD Sulsel itu kepada Ketum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat polemik kongres luar biasa (KLB) menjadi nilai plus.

“Saya hanya melihat perkembangan terakhir KLB itu. Paling tidak yang didaulat untuk membacakan deklarasi ketua-ketua se-Indonesia kan pada saat itu KB Kak Ulla. Jadi saya bilang, kalau memang tidak direspon (usaha) Kak Ulla, dia taruh dimana mukanya DPP,” ujarnya.

Dia lalu membandingkan terobosan IAS saat KLB. Emil merasa mantan Walikota Makassar dua periode itu tak ada gerakan saat Partai Demokrat mengalami polemik.

“Entah apakah saya tidak cari tahu atau bagaimana. Tapi setahu saya tidak ada berita-beritanya Pak IAS tentang KLB pada saat itu. Sementara KB (Ulla) kan selalu muncul, podcast apa semua. Jadi itu lah pertimbangan kami,” jelasnya.

Tapi Emil juga tak meragukan jika IAS memiliki kekuatan untuk membesarkan Demokrat. Sehingga menurut dia, keduanya memang merupakan tokoh-tokoh yang layak memimpin Partai Demokrat.

“Cuma kan sama-sama punya potensi membesarkan partai. Tapi kan kita lihat peluangnya ke depan. Saya juga ditanya Pak IAS beberapa hari yang lalu, eh kenapa Enrekang? Saya jawab, semata-mata pertimbangan ini KLB,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua DPC Demokrat Soppeng, Haeruddin Tahang mengusulkan agar para kandidat yang akan bertarung di Musda bisa duduk bersama. Sehingga Musda benar-benar menjadi ajang konsolidasi Partai Demokrat Sulsel.

“Kami berharap dan mendorong kepada para tokoh kita yang maju, bagusnya adakan pertemuan. Supaya ada win-win. Sehingga ajang konsolidasi Musda ini semakin kuat,” usulnya.

Anggota DPRD Soppeng ini menilai, dengan duduk bersama, para kandidat bisa menemukan solusi yang terbaik. Sekaligus bisa menepis isu miring yang berhembus di luar sana. “Supaya tidak ada pembicaraan liar kemana-mana. Agar kita juga tidak terkotak, dan bisa dikonsolidasikan dengan baik,” tutupnya.

Terpisah, Direktur Eksekutif PT Indeks Politica Indonesia (PT IPI) Suwadi Idris Amir menilai Ulla dan IAS memiliki peluang yang sama. “Saya melihat keduanya memiliki peluang cukup berimbang, karena keduanya memiliki keunggulan masing-masing,” ujarnya.

Menurutnya, Ulla punya keunggulannya karena memiliki loyalitas kuat ke AHY dan selalu digaris terdepan membela AHY saat di ganggu kisruh internal maupun eksternal. “Artinya Ulla merawat betul komunikasi politiknya ke DPP,” jelasnya.

Sedangkan, IAS kata Suwadi adalah sosok petarung, jika Demokrat dipimpin IAS maka Demokrat akan mampu bersaing dengan parpol besar lainnya.

Karena IAS memiliki loyalis dan finansial cukup kuat untuk Demokrat. Artinya keunggulan IAS di loyalis dan finansia lebih kuat dari Ulla. “Namun idealnya kedua tokoh ini duduk bersama memikirkan yang terbaik untuk Demokrat, agar Domokrat makin kuat bukan terpecah,” terangnya. (*)