oleh

Tak Ada Lagi Zona Hijau

Any Ramadhani-Headline, Metro-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Kasus Covid-19 semakin meningkat, termasuk di Sulawesi Selatan. Kini, tidak ada lagi kabupaten/kota yang berstatus zona hijau di wilayah ini.

Dari 24 kabupate/kota di Sulsel, 14 diantaranya zona kuning. Sisanya, berstatus zona oranye. Daerah yang berstatus zona oranye yakni Luwu Timur, Palopo, Parepare, Barru, Pangkep, Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto dan Selayar.

“Zona kuning itu ada 14 kabupaten/kota, sementara oranye ada 10 kabupaten/kota. Jadi sudah tidak ada lagi daerah zona hijau, zona merah juga tidak ada,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, dr Ichsan Mustari saat melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Gedung Tower DPRD Sulsel, Rabu (7/7/2021).

Ichsan menjelaskan, dari data yang terkonfirmasi positif di Sulsel sebagian besar adalah warga yang telah melakukan kunjungan luar provinsi.

“Jadi kondisi saat ini seperti sejak awal ada Covid-19. Diawali pekerja yang pulang kampung dari 212 orang ada 170 yang positif. Tapi itu sudah isolasi, begitu pula sekolah angkatan laut, gurunya dari Bandung yang positif jadi menular ke siswanya. Termasuk di Luwu Timur banyak pekerja dari luar yang datang,” ucapnya.

Olehnya kata Ichsan, masyarakat jangan lengah dengan penyebaran virus ini. “Apakah itu zona hijau, kuning, oranye, kita harus waspada dengan menjalankan protokol kesehatan,” imbuhnya.

Terkait angka kematian, Ichsan mengklaim masih cukup rendah dan berharap tidak mengalami peningkatan. “Kalau angka kematian rata-rata dalam dua bulan ini baru 1,5 persen,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Ichsan Mustari membantah adanya pengurangan atau penambahan data Covid-19 Sulsel. Ichsan menjelaskan, hasil pemeriksaan laboratorium yang positif ada dua, yakni yang pertama kali diperiksa dan yang masuk tahap kontrol. Tahap kontrol kata dia, untuk mengetahui pasien tersebut sudah sembuh atau belum di hari ke 10 sampai 14.

“Dilakukan dua kali pemeriksaan untuk setiap pasien positif. Jadi tentu pemeriksaan yang dilakukan ada bahkan satu pasien sampai tiga kali. Sehingga terkumpullah dalam data itu. Sehingga kelihatan lebih banyak,” katanya.

Ia menjelaskan data pasien positif Covid-19 yang dirilis adalah data hasil pemeriksaan lab yang pertama. Data tersebut yang dirilis Satgas Covid-19 Sulsel, tidak diambil langsung dari laboratorium melainkan dari data (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan) Litbankes Kementerian Kesehatan menggunakan aplikasi NAR (New AllRecord).

“Kami sekarang dengan sistem yang namanya NAR, kita mengambilnya dari Litbankes hasil pemeriksaan dari atau data yang dikirim oleh laboratorium ke Litbangkes. Jadi kita tidak mengumpulkan lagi data-data hasil dari laboratorium kemudian kita kompilasi kemudian kirim ke pusat. Sekarang laboratoriun langsung ke pusat. Provinsi dapatnya data dari pusat. Jadi sangat berbeda,” jelas Ichsan.

Ia menegaskan tidak ada manipulasi data karena semua berbasis sitem dari pusat hingga daerah.

“Jika disebut ada yang manipulasi data saya kira tidak mungkin. Karena data nasional yang dipakai bukan hanya Sulselkan, tetapi provinsi lain,” tegasnya.

Selain itu, Ichsan menjelaskan adanya perbedaan data karena waktu rilis berbeda. Pemerintah pusat rilis data setiap pukul 13.00 siang sedangkan hasil pemeriksaan laboratorium tidak memiliki waktu rilis.

“Kedua perbedaan ini bisa terjadi karena waktu rilisnya. Waktu rilis dibuat pusat itu jam 1 siang. Itu yang kita gunakan. Sementara data yang disampaikan oleh Prof Idrus itu adalah data hasil pemeriksaan laboratorium yang bahkan sampai malam. Jadi bisa berbeda nantinya, jadi dua hal yang berbeda di situ,” ungkapnya.

Ia kembali menegaskan tidak ada niat Pemprov Sulsel dalam mengurangi atau menambah data Covid-19. Dirilisnya data agar masyarakat mengetahui bahwa pasien bertambah dan berkurang.

“Jadi kalau kita mau sandingkan sebenarnya kita harus melihat by name by address. Akan kelihatan bahwa data itu tidak ada yang dikurangi atau ditambahkan. Saya kira tidak ada niat provinsi dan kabupaten/kota mengurangi angka atau menambah data tersebut. Kami merilisnya lebih bagaimana agar semua kita bisa tahu bahwa pasien bertambah atau berkurang,” katanya.

lebih lanjut kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia Provinsi Sulsel tersebut, ia berharap agar masyarakat senantiasa menerapkan protokol kesehatan.

“Lebih penting bagi kami sebenarnya bagaimana kita semua saling mendorong dan setiap orang menjalankan protokol kesehatan saya kira itu lebih penting,” terangnya.

Sebelumnya, Pakar Kesehatan, Universitas Hasanuddin, Idrus Paturusi menyorot data Covid-19 yang dirilis Pemprov Sulsel. Ia menduga adanya manipulasi data Covid-19 dari pemerintah.

Pasalnya, ia melihat data hasil pemeriksaan di laboratorium sering kali berbeda dengan data Covid-19 yang dipublish oleh pemerintah.

Anggota Komisi E DPRD Sulsel, Ismail Bachtiar meminta Dinas Kesehatan mengedepankan agar seluruh masyarakat yang terpapar Covid-19 segera sembuh.

“Ada beberapa orang saya hubungi dari tim gugus tugas menyampaikan jika dia hanya mencatat saja (jumlah terpapar Covid-19),” ungkap Ismail dalam RDP tersebut.

Kondisi ini, kata dia harus disampaikan ke Plt Gubernur Sulsel untuk kembali menyiapkan wisata Covid-19 seperti yang dilakukan oleh pemerintah Kota Makassar.

“Kita sudah lihat Pemerintah Kota Makassar sudah siapkan Makassar Recover, tapi pemprov sampai saat ini belum,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sulsel, Nurul AR mengatakan, sebanyak 5.771 anak usia 0-17 tahun positif terinfeksi virus corona (Covid-19). Data tersebut diambil per 30 Juni 2021.

“Untuk golongan anak usia 0 hingga 17 tahun ada 5.771 kasus, ini cukup tinggi. Sekarang kita telah diperbolehkan untuk memberikan vaksin kepada anak sehingga hal itu merupakan upaya kita agar ada rasa aman bagi anak-anak,” kata dr Nurul, Rabu (7/7).

Meski demikian, kata Nurul angka kesembuhan terhadap anak yang terpapar Covid-19 terbilang cukup tinggi. tercatat ada sebanyak 5.547 anak yang telah sembuh. “Kalau sembuh juga tinggi, ada 5.547. sedangkan anak yang meninggal akibat Covid tercatat ada 27 orang,” jelasnya. (*)