oleh

Dugaan Suap Nurdin Abdullah, Uang Setoran Kontraktor untuk Pembangunan Masjid

Any Ramadhani-Headline, Korupsi-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Terdakwa kasus dugaan suap proyek infrastruktur, Gubernur Sulsel non aktif Nurdin Abdullah (NA) menjalani sidang lanjutan di Pangadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Makassar, Kamis (29/7/2021).

Sejumlah saksi dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kontrakor yang dihadirkan dalam sidang masing-masing Petrus Yalim dan Thiawudy Wikarso.

Jaksa dan majelis hakim mencecar sejumlah pertanyaan kepada dua kontraktor itu soal pembangunan masjid di Kebun Raya Pucak, Desa Tompobulu, Kabupaten Maros. Mereka mengaku menyetor sejumlah uang untuk membantu pembangunan masjid.

“Saya setor Rp100 juta itu melalui permintaan Syamsul Bahri, ajudan Pak Nurdin Abdullah,” kata Petrus Yalim selaku Direktur PT Putra Jaya.

Petrus menyebutkan, uang disetorkan sehari setelah ajudan NA, Syamsul Bahri menghubunginya lewat sambungan telepon pada pertengahan September 2020 lalu.

“Saya dihubungi Pak Syamsul, katanya ini bapak (Nurdin Abdullah) mau bangun masjid di Pucak (Maros) bisa dibantu-bantu dulu,” beber Petrus.

Uang Rp100 juta disetorkan Petrus setelah Syamsul Bahri memberinya nomor rekening. Setelah uang terkirim, bukti transaksi itu kemudian dia kirimkan kembali ke Syamsul Bahri.

“Saya kasih lihat saja buktinya bahwa ini pak (Syamsul) saya sudah kirimkan,” ujarnya.

Setelah itu, Petrus kemudian diundang oleh Syamsul Bahri untuk ikut menghadiri peletakan batu pertama pembangunan masjid pada bulan November 2020.

“Karena saya berpikir bahwa itu masjidnya pak gubernur dan diundang juga datang jadi saya hadir di sana langsung untuk saksikan,” jelasnya.

Petrus mengaku, sumbangan senilai Rp100 juta diberikan murni untuk kepentingan masyarakat dan untuk mendapatkan amal ibadah. Bahkan uang tersebut langsung dikirim ke rekening Yayasan Pengurus Masjid, bukan ke pribadi NA.

Selain kepada Nurdin Abdullah, Petrus juga mengaku sudah dua kali memberikan uang kepada terdakwa lainnya, yakni Edy Rahmat. “Pertama Rp4 juta, kemudian Rp5 juta lagi. Dia datang ke kantor dengan alasan minta bantuan untuk perjalanan biaya akomodasi selama berada di luar kota,” tuturnya.

Petrus juga mengakui bahwa sumber uang yang disetorkan ke rekening pengelola pembangunan masjid adalah dana pribadi. Menurut Petrus, saat dimintai uang, Syamsul Bahri tidak menyertakan proposal. “Karena biasa kan kalau mau pakai dana CSR itu harus resmi,” katanya.

Dia pun mengakui, baru pertama kali melihat lokasi keberadaan masjid saat peletakan batu pertama. “Tidak ada rumah warga di sekelilingnya masjid, yang ada hanya kebun durian baru di depannya itu hanya dipisahkan sama jalan raya,” tutupnya.

Kontraktor lainnya, Thiawudy Wikarso juga memberi sumbangan melalui dana CSR untuk pembangunan masjid. Nilanya pun sama yakni Rp100 juta, dikirim langsung ke rekening yayasan pengurus masjid.

Dana tersebut dirincikannya ditransfer dua kali yakni Rp50 juta diawal, kemudian menyusul Rp50 juta lagi dihari yang sama pada bulan Desember. “Dana CSR memang untuk kepentingan sosial. Tidak pernah ada kaitannya dengan pemerintah. Tidak ada juga kemudahan yang diberikan oleh pemerintah. Tidak pernah juga komunikasi dengan NA soal proyek,” katanya.

Thiawudy mengaku diminta oleh ASN Pemkab Bantaeng atas nama Wawan, untuk ikut menyumbang pembangunan masjid di Pucak, Tompobulu Maros. “Pak Wawan itu setahu saya, dia Kabag Umum dia sampaikan saya begitu,” katanya.

Dia juga mendapat undangan untuk menghadiri peletakan batu pertama. Untuk memastikan undangan itu, dia menghubungi Petrus Yalim. “Saya mau pastikan, ke pak Petrus bahwa betulkah ini ada undangan untuk pembangunan masjid karena saya sudah menyumbang. Terus pak Petrus benarkan. Jadi saya bilang, ya sudah kalau, begitu nanti kita sama-sama ke sana (Pucak) hadiri undangannya bapak (Nurdin Abdullah),” tegasnya.

Ia tidak mempersoalkan letak masjid yang dibangun. Mereka serentak menyatakan bahwa niatnya menyumbang untuk membantu. “Kita juga ini kan mau beramal. Agama apa pun, pasti kalau mau dibantu, kita bantu semampu kita. Apalagi kalau seperti masjid yang mau dibangun sama pak gubernur, pasti selalu kita bantu,” tutupnya.

Sementara Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK, Andry Lesmana mengatakan, fakta hukum dalam persidangan yang diungkapkan saksi, menjadi rujukan pihaknya akan mendalami lebih lanjut perkara ini. Termasuk mengungkap siapa sebenarnya pemilik rekening yang mengatasnamakan pengelola yayasan pembangunan masjid. Mengingat kedua kontraktor menyetor ke rekening tersebut.

“Kita tidak tahu kan, siapa pemilik yayasannya dan seharusnya dalam proposal itu ada kalau itu resmi. Kalau kita lihat fakta tadi itu juga, pemberian pribadi bukan CSR. Kalau CSR itu pengeluaran perusahan yang seharusnya ada proses,” kata Andry usai persidangan.

Andry menambahkan bentuk fisik masjid juga tidak begitu besar. Namun dia tidak menyebut jelas berapa luas masjid yang berdiri di atas lahan kosong milik terdakwa tersebut. Mengenai dugaan bahwa masjid adalah aset terdakwa, Andry menyiratkan faktanya akan terungkap di sidang berikutnya.

“Kalau dakwaan itu masuk dugaan kepentingan pak Nurdin karena rekeningnya ada sama yayasan (masjid). Berdasarkan keterangan saksi itu kan sekeliling masjid ada pohon durian dan tidak ada rumah dan tidak ada orang lalu lalang. Jadi nanti kita lihat faktanya lagi,” jelasnya.

Kuasa Hukum Nurdin Abdullah, Arman Hanis mengatakan, tiga saksi yang dihadirkan sudah tegas memberikan informasi. Dimana disampaikan bahwa tidak ada sama sekali permintaan dari Gubernur Sulsel non aktif, Nurdin Abdullah secara langsung untuk sumbangan pembangunan masjid.

“Dua kontraktor menyampaikan itu inisiatif mereka, jumlahnya juga ditentukan sendiri, tidak ada juga arahan langsung dari gubernur,” katanya.

Arman Hanis menyebutkan fakta tersebut adalah poin penting yang harus diketahui. Apalagi penyetorannya juga langsung ke rekening yayasan, bukan ke rekening gubernur.

“Pak Nurdin waktu pidato peletakan batu pertama menyampaikan bahwa pembangunan masjid itu untuk masyarakat. Kontraktor lah yang inisiatif menyumbang untuk masjid yang akan digunakan masyarakat,” tutupnya. (*)