oleh

Pemilih di Sulsel Bertambah 2.370 Orang

Any Ramadhani-Headline, Pilkada, Politik-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Pemilih di Sulsel terus bertambah. Per Juli 2021, terjadi penambahan data pemilih berkelanjutan sebanyak 2.730 orang atau mencapai 6.211.063 orang dari 6.208.693 pemilih pada periode Juni 2021.

Kenaikan jumlah pemilih ditetapkan KPU Sulsel berdasarkan hasil pleno rekapitulasi Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (DPB), Senin (9/8/2021).

“Ada kenaikan sebanyak 2.370 jumlah pemilih dibandingkan dengan DPB Juni 2021. Dan total pemilih di Sulsel hingga 31 Juli 2021 sebanyak 6.211.063 orang,” kata Ketua Divisi Data dan Informasi Pemilih KPU Sulsel, Uslimin.

Usle–sapaan akrab Uslimin mengungkapkan kenaikan jumlah pemilih terjadi di 12 kabupaten/kota. Tiga besar daerah yang mengalami peningkatan jumlah pemilih adalah Kabupateh Pinrang, Bantaeng dan Luwu.

Uslimin menyebutkan, tambahan pemilih di Pinrang mencapai 1.462 pemilih, yakni dari 260.989 menjadi 262.451. Sementara Bantaeng naik sebanyak 844 pemilih dari 150.850 menjadi 151.694. Adapun kenaikan pemilih di Luwu mencapai 342 pemilih. Yakni dari 262.303 pada Juni menjadi 262.645 per Juli 2021.

Selanjutnya, tercatat 12 kabupaten/kota yang pemilihnya lebih kecil (menyusut) dibandingkan periode Juni 2021, yakni Selayar, Bulukumba, Gowa, Sinjai, Pangkep, Barru, Sidrap, Luwu Timur, Toraja Utara, Makassar, Parepare dan Palopo.
Uslimin, mengungkapkan kabupaten/kota dengan penyusutan terbesar adalah Toraja Utara, yakni sebanyak 358 orang atau dari 169.469 menjadi 169.111, disusul Sinjai 156 orang atau dari 188.272 menjadi 188.116, dan Luwu Timur sebanyak 122 orang dari 204.093 menjadi 204.971.

Sedangkan jumlah pemilih tidak memenuhi syarat (TMS) di Sulsel dalam sebulan terakhir, mencapai 3.216 orang. Separuh diantaranya disebabkan karena banyaknya warga yang meninggal dunia. Jumlah pemilih TMS karena warga meninggal mencapai 1.522 orang dalam kurun waktu Juni-Juli 2021.

Uslimin menambahkan, faktor lain yang memengaruhi tingginya TMS adalah warga yang pindah domisili dan beralih status menjadi TNI/Polri, serta ada yang teridentifikasi sebagai pemilih ganda.

Uslimin merincikan, TMS karena pindah domisili mencapai 1.440 orang, beralih status menjadi anggora Polri sebanyak 120 orang, beralih status sebagai anggota TNI sebanyak empat orang, serta tercatat di lebih dari satu daerah sebanyak 130 orang.
Ketua KPU Sulsel, Faisal Amir menambahkan, keberhasilan Pemilu tahun 2024 mendatang berawal dari maksimalnya upaya penyelenggara pemilu terkait permutakhiran data pemilih berkelanjutan (DPB).

“Maka kita terus berupaya maksimal agar proses demokrasi kita kedepan mengalami kemajuan yang lebih baik lagi, khususnya data pemilih berkelanjutan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Faisal mengatakan bahwa, salah satu program yang selalu menjadi perhatian utama KPU saat ini yakni pemutakhiran data pemilih berkelanjutan. “Awal dari keberhasilan pemilu dan pemilihan itu berawal dari maksimalnya upaya kita terkait permutakhiran data pemilih berkelanjutan ini,” ungkap Faisal.

Ditambahkan, pemutakhiran data pemilih berkelanjutan merupakan strategi KPU dalam menjalankan ataupun untuk mengakomodir hak konstitusional pemilih pada pemilihan umum dan pemilihan.

KPU Sulsel sangat berterima kasih atas dukungan semua pihak, karena dengan dukungan menjadi harapan dalam menyukseskan pemutakhiran data pemilih berkelanjutan ini. “Mengingat suksesnya pemilihan umum dan tidak terlepas dari dukungan dan kerja sama kita semua,” pungkasnya.

Komisioner KPU Wajo Devisi Perencanaan, Data dan Informasi, Andi Tenri Sampeang mengatakan, hasil pleno rekapitulasi Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (DPB) periode Juli 2021, menetapkan jumlah pemilih sebanyak 288.364 orang.

“Secara rinci, jumlah pemilih laki-laki sebanyak 136.003 orang dan jumlah pemilih perempuan ada 152.361,” kata Andi Tenri Sampeang.

Angka tersebut bertambah ketimbang pada penetapan DPB periode Juni 2021 lalu. Pada periode Juni 2021, jumlah pemilih di Kabupaten Wajo tercatat 288.281 pemilih.

Lain halnya jumlah pemilih di Kota Palopo pada bulan Juli ini berkurang sebanyak 74 orang. Hal itu terungkap setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Palopo melakukan pleno rekapitulasi Daftar Pemilih Berkelanjutan (DPB), beberapa waktu lalu.

Menurut Komisioner KPU Kota Palopo Divisi Data Informasi dan Perencanaan, Efendi Samaila berkurangnya data tersebut dikarenakan jumlah pemilih yang Tidak Memenuhi Syarat (TMS) lebih besar dari pada penambahan jumlah potensi pemilih.

“Hal ini dikarenakan kami hanya menerima laporan masyarakat yang memang lebih banyak melaporkan jumlah pemilih yang meninggal dunia ketimbang orang yang terdaftar sebagai penduduk yang telah melakukan perekaman e-KTP,” terang Efendi Samaila.

Diakuinya sejak Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) tak lagi memberi akses terhadap data kependudukan, praktis pihaknya hanya mengandalkan laporan masyarakat terkait perkembangan kependudukan di Kota Palopo.

“Dimana laporan yang kami terima tersebut memang lebih banyak yang kategori TMS (meninggal) dibanding potensi pemilih seperti mereka yang baru saja menginjak usia 17 tahun yg telah perekam e-KTP,” tambah Efendi.

Namun demikian, pihaknya terus mencoba berkoordinasi dengan berbagai pihak guna mendapatkan data potensi pemilih yang nantinya akan dimasukkan ke DPB. “Kami coba berkoirdinasi dengan pihak Kelurahan, Kecamatan, Kodim 1403 Palopo dan juga dengan Polres Palopo,” kuncinya.

Dalam pleno DPB terungkap jumlah pemilih di Kota Palopo pada Juli ini sebanyak 108.521 pemilih berkurang 74 pemilih dibanding bulan sebelumnya. Dari jumlah itu terdapat sebanyak 53.102 pemilih laki-laki dan 55.419 pemilih perempuan. (*)