oleh

Pilrek Unhas Tanpa Intervensi

Any Ramadhani-Headline, Metro-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Pertarungan menuju kursi kosong satu Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar diprediksi bakal berlangsung sengit.

Penyelenggaraan Pemilihan Rektor (Pilrek) Unhas periode 2022-2026 diharapkan berlangsung aman dan tertib tanpa adanya intervensi dari luar.

Sejauh ini ada delapan bakal calon yang telah mendaftarkan diri. Diantaranya Prof Dr Armin Arsyad (Dekan FISIP Unhas), Prof dr Budu (Dekan Fakultas Kedokteran Unhas), Prof dr Abdul Kadir (Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI), Prof Dr Farida Patittingi (Dekan Fakultas Hukum Unhas).

Selanjutnya, Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa (Dekan Sekolah Pascasarjana Unhas), Prof Dr Indriyanti Sudirman (Sekretaris Majelis Wali Amanat serta Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas). Prof Dr Ir Muh Restu (Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Guru Besar Fakultas Kehutanan Unhas), serta Prof Ir Sumbangan Baja yang saat ini menjabat WR II Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Infrastruktur Unhas.

Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Unhas, Komjen Pol (Purn) Syafruddin mengatakan, delapan calon yang sudah mendaftar merupakan orang terbaik yang saat ini ada di kampus merah tersebut.

“Mereka semua guru besar yang hebat dan terbaik. Kami sudah sepakat bersama MWA dan panitia seleksi untuk menggelar Pilrek dengan terbuka dan demokrasi,” kata Syafruddin, Rabu (25/8/2021).

Mantan Menpan-RB itu menegaskan dalam Pilrek kali ini pihaknya menjamin tak akan ada intervensi dari pihak luar. Karena itu, dirinya meminta pansel melaksanakan Pilres sesuai aturan yang telah disepakati dalam rapat paripurna MWA, senat akademik, rekrorat hingga seluruh perwakilan civitas akademik Unhas.

“Kami akan beri ruang bersaing secara sehat. Ada pakem secara tidak tertulis, kita ingin menghasilkan rektor yang terpilih secara demokratis, terbuka dan sehat. Apalagi sekarang zaman Covid-19, bukan hanya fisik, juga naluri dan hati,” tegasnya.

Syafruddin mengaku dalam penyusunan aturan main Pilrek, pihaknya mengikuti Statuta Unhas yang merupakan Peraturan Pemerintah (PP). Demi menghasilkan sosok pelanjut Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu, dirinya hampir setiap saat memantau proses Pilrek meski berada di Jakarta.

“Panitia melaporkan realtime, bahkan setiap momen pendaftaran calon. Pansel ini terdiri dari semua unsur,” jelasnya.

Terakhir, mantan Wakapolri ini menegaskan Pilrek Unhas kali ini akan berjalan kondusif. Semua calon akan diberi kesempatan, termasuk melakukan sosialisasi asal tidak melanggar aturan.

“Kalau langgar, kita akan diskualifikasi, ikuti aturan yang sudah disepakati. Yang paling penting sebagai pribadi dan tim, saya pastikan tidak bisa diintervensi oleh siapapun, kita akan laksanakan dengan baik,” tutupnya.

Mantan rektor Unhas Prof Idrus Paturusi menilai pertarungan menuju kursi kosong satu Unhas ada pada Prof Abdul Kadir, Prof Farida, dan Prof Budu.

Pada urutan empat, ada Prof Jamaluddin Jompa yang juga ditengarai kuat bersaing menempati posisi tiga. Hal itu dikatakannya berdasarkan situs Pollingkita.com, yang tersebar di media sosial itu.

Kata Idrus, terlihat jelas beberapa nama yang menduduki empat besar itu.

“Kira-kira seperti itu nanti. Urutannya kemungkinan seperti itu juga. Itu mencerminkan-lah, apalagi suara pemilih juga sudah ribuan yang terdiri atas alumni, dosen dan segala macam,” kata Idrus.

Ia meyakini, kemungkinan antara empat besar itu pertarungan terjadi. Pertarungan yang merebut posisi tiga antara Prof Budu dan Prof Jamaluddin diakui bakal seru.

“Yang cukup menarik siapa yang bakal tembus tiga besar. Antara Prof Budu dan Prof Jamaluddin,” ungkapnya.

Poling dikatakannya tentu tidak menentukan, tetapi ia menilai cara berpikir orang seperti itu. “Kan nanti lihat masing-masing sudah kenal figurnya seperti apa kemampuannya. Semuanya punya kesempatan untuk menjadi rektor. Dari delapan orang ini masing-masing punya kelebihan dan kekurangan,” katanya.

Proses nanti akan dipilih tiga besar dari Senat Akademik lalu ditentukan oleh MWA untuk menjadi rektor bersama suara Menteri 35 persen.

“Kan, cuma 82 anggota senat akademik, kalau masing-masing sudah dapat 20 atau 15 saya kira sudah masuk itu. Masuk tiga besar,” ucapnya.

Sementara dia mengharapkan, kandidat yang dibutuhkan Unhas, ialah orang yang memiliki kemampuan manajerial, kemudian punya link yang bagus baik di dalam dan luar negeri.

“Seperti sekarang kita lihat, Unhas sudah termasuk terbaik di luar Jawa. Sudah masuk di World Class, paling tidak ada masuk 10 besar di Indonesia. Kita inginkan jangan sampai kinerja yang sudah dicapai mundur,” paparnya.

Pemimpin di kampus lanjut dia, sama dengan memanaj tridharma, pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Itu yang harus dipunyai. Pilrek juga tidak seperti Pilkada, terbatas di Senator lalu di MWA. Kemudian didapat yang paling baik. Dari delapan orang akan dapat tiga besar dan terakhir dapat yang terbaik.

Sementara itu, Salah satu alumni Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas), Lutfie Natsir, menyatakan dukungannya kepada Prof dr Abdul Kadir, yang mendaftar sebagai Calon Rektor Unhas Periode 2022-2026. Ia menilai, Dirjen Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI tersebut bisa membawa perubahan dan pembaharuan di kampus merah tersebut.

Lutfie mengungkapkan, dengan latar belakang pendidikan dalam dan luar negeri, pengalaman sebagai akademisi dan dosen di Unhas, serta berbagai jenjang pendidikan strata maupun pelatihan tekhnis manajerial, short maupun long kursus yang telah diikuti Prof Abdul Kadir, tentunya menjadi bekal untuk memajukan Unhas kedepan. Mengambil peran dalam memajukan Unhas, dan mencetak sarjana sarjana yang mumpuni, dan ikut serta dalam pembangunan bangsa dan kesejahteraan masyarakat.

“Saya yakin, Prof Abdul Kadir bisa memajukan Unhas,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Makassar ini mengungkapkan, menghadapi bonus demografi dewasa ini, tentunya harus menjadi perhatian kita semua. Peningkatan jumlah penduduk yang produktif, menjadi potensi dan boleh jadi menjadi ancaman dan hambatan.

“Penduduk usia produktif berkompetisi secara ketat dalam pencarian lapangan kerja. Oleh karena itu, lulusan universitas haruslah menjadi sarjana yang siap pakai, dan juga harus berinovasi dan berjiwa enterpreunership, menciptakan lapangan kerja baru,” terangnya.

Menurutnya, seorang Rektor harus berani melakukan perubahan, dan pembaharuan. Paradigma pembangunan manusia dewasa ini mengalami lompatan yang begitu jauh. Era 4.0, dan kejadian yang tidak pernah disangka-sangka seperti pandemi Covid-19, tentunya menjadi frame berfikir dan akademik seorang Rektor untuk melakukan perubahan dan pembaharuan.

“Jadi, bukan hanya berdasar dan pendekatan pada aturan-aturan yang bersifat legal justice, akan tetapi harus memperhatikan juga pada aspek sosial justice dan moral justice,” pungkasnya. (*)