oleh

Waspada Virus Corona Varian Mu!

Any Ramadhani-Kesehatan-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Belum usai lonjakan kasus Covid-19 varian Delta, kini muncul varian Mu atau B.1621. Kemunculan Varian Mu yang diperkirakan lebih kebal terhadap vaksin memunculkan kekhawatiran akan gelombang baru virus Corona.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mengkategorikan varian Mu sebagai variant of Interest (VoI). Meski demikian, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengklaim mutasi virus Varian Mu belum teridentifikasi di Indonesia.

Ahli Epidemiologi Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Prof Ridwan Amiruddin mengatakan, karakteristik dari varian MU ini daya tularnya tidak tinggi dibandingkan varian virus sebelumnya yaitu Delta.

“Kalau kita perhatikan karakteristik dari virusnya, yang pertama dari sisi daya tularnya tidak lebih tinggi dibanding Delta. Kemudian, dari sisi kemampuan dia lebih mampu beradaptasi. Dan merupakan variasi dari varian virus sebelumnya,” ungkapnya, Selasa (7/9/21).

Ia menyebut varian ini sudah menyebar di 40 negara, termasuk di Asia seperti Korea Selatan dan Jepang dan tidak menutup kemungkinan di Indonesia juga bisa masuk.

“Kalau kita lihat pertumbuhannya yang sudah ada di 40 negara, maka kemungkinan juga akan masuk ke Indonesia,” ungkapnya.

Meskipun cakupan vaksinasi sudah membaik dan kasus penyebaran Covid-19 di Indonesia sudah mulai melandai baik secara nasional maupun di Sulsel khususnya tetapi dengan adanya varian Mu ini tetap dikhawatirkan dapat memicu kenaikan kasus sehingga terjadi gelombang ketiga.

Prof Ridwan mengingatkan peluang terjadinya gelombang ketiga dengan adanya varian Mu ini tetap terbuka sehingga masyarakat diminta untuk tetap menjalankan protokol kesehatan.

“Sekarang ini kan trennya semua kasus baik nasional maupun provinsi, menurun. Yang dikhawatirkan apakah varian Mu ini meningkatkan gelombang baru atau gelombang ketiga. Peluang untuk gelombang ketiga tetap terbuka. Kita tidak menyebut capaian vaksinnya atau kita lihat di pintu-pintu masuk, bandara maupun di pelabuhan. Protokol kesehatan tergantung, artinya virus apapun jenisnya sepanjang disiplin dengan protokol kesehatan itu bisa dikontrol,” ucapnya.

Ia juga mengingatkan meskipun masyarakat telah divaksin tetapi bisa tetap terpapar. “Meskipun kita sudah divaksin dua kali atau tiga kali tapi kita bisa terpapar,” kata Prof Ridwan.

Ridwan menyebut langkah-langkah antisipasi yang dapat dilakukan untuk mecegah masuknya varian Mu yaitu orang dari luar yang masuk ke Sulsel harus dimonitor serta masyarakat harus tetap melakukan protokol kesehatan, meningkatkan cakupan vaksin serta tetap menjalankan 3T.

“Pertama tentu semua pendatang harus dimonitor dengan baik dan harus dapat dilacak alamat tujuan sehingga apabila ada indikasi, ada positif dari varian-varian tertentu itu dapat dilacak dan dapat dihentikan penularannya. Kemudian di pertahanan dalam kota misalnya maka setiap warga kota harus tetap dengan protokol kesehatan, meningkatkan cakupan vaksin dan cara-cara yang ada sekarang harus tetap dijalankan misalnya tracing, testing harus dimaksimalkan,” tutupnya.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan Ichsan Mustari menyebut akan terus melakukan langkah-langkah mitigasi dalam mencegah masuknya virus Mu.

“Maksudnya bahwa bencana datang dengan tidak ada perencanaan maka kita harus melakukan perencanaan. Seperti kasus Delta sama pendekatan yang kita lakukan untuk Mu yah, tentu langkah-langkah mitigasi kita harus lakukan,” tuturnya.

Ia juga menekankan pentingnya masyarakat untuk tetap menjalankan protokol kesehatan serta membatasi pergerakan masyarakat dan menjalani vaksinasi agar tidak mudah terpapar.

“Tapi yang sangat penting adalah bagaimana 2 hal yang sering kami sampaikan semua orang tanpa terkecuali individu membatasi pergerakan, kedua protokol kesehatan kita jalankan dan sama-sama mari kita vaksinasi. Vaksin sekarang sudah banyak di kabupaten kota, tidak sama seperti sebelumnya banyak yang ingin vaksin tapi tidak ada vaksin, sekarang banyak,” pungkas Ichsan. (*)