oleh

Pengusaha Ungkap NA Pinjam Rp4,6 Miliar

Any Ramadhani-Hukum, Korupsi-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Sidang kasus dugaan suap dan gratifikasi yang menjerat Gubernur Sulsel nonaktif, Nurdin Abdullah (NA) kembali digelar di Pengadilan Negeri Tipikor Makassar, Kamis (23/9).

Dalam sidang tersebut, Jaksa Penutut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan lima orang saksi. Mereka adalah pengusaha atas nama Yusuf Tyos dan istrinya Meikewati Bunadi, Kepala Biro Umum Pemprov Sulsel Idham Kadir, Sekretaris Bappelitbangda Pemprov Sulsel Junaedi, dan kontraktor atas nama Ferry Tanriady.

JPU KPK, Siswandono mengatakan, Sekretaris Balitbangda Sulsel, Junaedi dihadirkan untuk menggali soal adanya permintaan proyek dari tim pemenangan Nurdin Abdullah di Pilgub Sulsel.

Pengusaha Yusuf Tyos dan istrinya, Meikawati menyebut Nurdin pernah meminjam uang Rp4,6 miliar kepadanya.

NA menyerahkan sertifikat ruko pribadinya yang terletak di Jalan Penghibur sebagai jaminan.

“Dia (Nurdin Abdullah) mengatakan ada kebutuhan mendesak dan jaminan ruko yang ada di Jalan Penghibur Makassar,” tuturnya.

Yusuf mengaku tidak langsung mengiyakan permintaan Nurdin Abdullah saat itu.

Ia berkonsultasi dengan keluarganya terlebih dahulu. Setelah istri Yusuf, Meikewati Bunadi menyetujui, pihaknya langsung memberikan uang untuk Nurdin Abdullah dengan bentuk tunai.

“Kira-kira sekitar awal Bulan Februari saya antarkan uang itu ke rumah pak Nurdin Rp 4,6 miliar. Pak Nurdin sendiri yang terima,” ucapnya.

Uang tersebut menurut Yusuf berstatus pinjaman karena ada sertifikat sebagai penjamin. “Janjinya satu bulan dia pinjam, tapi baru satu minggu dia kembalikan,” bebernya.

Dalam mengembalikan uang tersebut kata dia, tidak melalui Nurdin Abdullah akan tetapi melalui salah seorang bernama Ardi yang bekerja di Bank Mandiri cabang Panakkukang di jalan Boulevard Makassar.

“Jadi pak Ardi hubungi saya dihari yang sama (jika pak Nurdin akan kembalikan uang) tapi pertemuan saya sehari setelah dia hubungi saya,” tuturnya.

“Tapi pak Ardi sampaikan kalau bisa membuka nomor rekening cabang Panakukang dan itu atas nama istri saya (Meikewati),” tuturnya.

Yusuf dihadapan majelis hakim yang dipimpin Ibrahim Palino mengatakan mengenal Nurdin Abdullah sekitar tahun 2011-2012.

“Saya diperkenalkan oleh teman pada saat pak Nurdin menjadi Bupati Bantaeng,” kata Yusuf Tyos dalam persidangan.

Ia menyebutkan komunikasi dengan Nurdin Abdullah hanya sebatas teman saja, dan dia sekali-kali datang ke rumah jabatan. “Datang di malam hari, hanya ngobrol santai,” ucapnya.

Saat JPU menanyakan apakah dia pernah meminta proyek ke Nurdin Abdullah. Yusuf mengaku tidak pernah meminta proyek.

“Tidak ada hubungan kami dengan pemerintah,” ujarnya.

Sementara, Meikewati Bunadi mengatakan jika uang Rp 4,6 miliar tersebut uang perusahaan dan dia tarik di tiga rekening berbeda-beda.

“Proses pengembalian tempo hari Yusuf sampaikan (Jika Nurdin Abdullah akan pinjam),” singkatnya.

JPU KPK, Siswandono mengatakan itu hanya keterangan satu pihak, apakah uang tersebut adalah uang suap atau pinjaman.

“Tentu kita akan hubungkan nanti dengan saksi lain, seperti pak Ardi, Syamsul. Jadi kita akan analisa apakah benar pinjaman atau pura-pura pinjam,” katanya. (*)