oleh

Pemeluk Tanah Moyang di Negeri Padi

Any Ramadhani and Hikmah-Ekobis-

GOWA, BACAPESAN.COM – Daun  mangga di pekarangan masih basah karena hujan subuh tadi ketika Dg Lewa (55) menyeruput kopi pekat buatan istrinya. Bagi Dg Lewa, itu semacam ritual pagi sebelum bekerja.

Memang butuh banyak kafein untuk pekerja keras seperti dirinya. Dg Lewa sangat yakin usaha dan kerja keras bak mantra yang dapat memberikan tenaga, apalagi ditambah kopi, makin pas.

Bagi Dg Lewa, bergelut dengan peluh di sawah seluas satu hektare tidaklah mudah, waktu yang membuatnya terbiasa, sudah 30 tahun Ia bertani.

“Sawah yang saya garap itu peninggalan Almarhum Tetta, sudah dibagi juga dengan lima saudara saya yang lain. Ini peninggalan nenek moyang kami,” ujar Dg Lewa sembari berlalu ke pekarangan samping rumah, Kamis (21/10).

Selain luas, jarak sawah Dg Lewa juga lumayan jauh, sekitar 1,5 km dari kediamannya. Bagi pria paruh baya itu sudah mustahil jika harus berjalan kaki seperti ketika muda, Beruntung Ia  memiliki sepeda motor bebek keluaran tahun dua ribuan.

Meski usia sepeda motornya sudah tua, mesinnya masih bisa di adu, masih segar bugar seperti motor baru “Jangan salah, mesin motorku masih rewa, tidak seperti tampilannya” pungkas Dg Lewa sambil tertawa.

Dia membeberkan, keandalan mesin motor bebeknya berkat bahan bakar yang Ia gunakan. Dahulu, Ia menggunakan bahan bakar jenis premium, namun di tahun 2015 bahan bakar membirukan langit bernama Pertalite dilaunching. Beberapa tahun kemudian ia mencobanya dan menjadi pengguna setia.

“Motor saya masih baru waktu itu, mungkin sekitar dua tahunan dan saya mendengar ada bahan bakar baru yang bagus. Awalnya saya tidak percaya makanya saya mencoba dan ternyata bagus untuk kendaraan,” katanya.

Belakangan Dg Lewa menyadari keandalan bahan bakar jenis Pertalite bukan hipotesa belaka tetapi betul teruji, mengawetkan mesin, juga dapat mengurangi emisi gas buang yang menyebabkan banyak polusi.

“Selain pepohonan, ternyata bahan bakar juga mempengaruhi kualitas udara,” ujarnya membeberkan informasi yang pernah Ia dengar dari tetangganya

Pukul enam pagi Dg Lewa sudah bergegas ke sawah, makin pagi makin banyak rezeki, begitu prinsip kerjanya.

Baju berwarna gelap pudar dengan bawahan senada menjadi pakaian ‘dinas’ yang kerap Ia kenakan. Hari ini Dg Lewa agak santai, tak membawa perkakas kerja seperti cangkul, semprotan pestisida atau semacamnya, dirinya hanya mengantongi gawai 3G untuk digunakan menghubungi supir mobil pemotong padi.

Setelah berkendara sekitar 15 menit dengan motor bebek kesayangannya, tibalah Dg Lewa di pelataran sawah miliknya yang kebetulan berseberangan dengan perumahan baru.

Ia menceritakan, perumahan yang terdiri dari ratusan rumah itu dulunya sawah yang membentang luas, sumber makanan pokok warga Borongloe.

“Karena terdesak kebutuhan dan iming-iming harga tinggi, banyak petani yang tergiur dan menjual sawahnya. Saya salah satu dari beberapa orang yang bertahan dan tak menjual sawah. Saya berpikir kalau sawah ini peninggalan nenek moyang kami, satu-satunya tempat kami hidup dan menghidupi masyarakat Borongloe,” ungkap Dg Lewa.

Akibat dari pindah tangan ini, satu persatu sawah tak lagi digunakan bercocok tanam. Setiap harinya aktivitas truk roda enam semakin padat membawa tanah galian, pasir hasil pengerukan bibir sungai Je’ne’ Berang dan kerikil yang diambil dari tempat yang sama.

Kurang sepuluh tahun, pembangunan  di Borongloe tumbuh pesat.Salah satu kampus kenamaan di Sulawesi Selatan pun berdiri di Kelurahan tetangga menggantikan pabrik kertas yang dulunya sangat terkenal. Ini peluang besar, migrasi mahasiswa, ditambah ruralisasi masyarakat dari kota Makassar.

Ruralisasi yang terjadi dari Kota Makassar ke Kabupaten Gowa dikarenakan padatnya penduduk di kota Makassar. Hal tersebut memicu semakin tingginya harga tanah dan harga tempat tinggal di Kota Metropolitan Sulsel ini.

Alhasil pengembang properti berlomba-lomba memanfaatkan momen tersebut dengan membangun perumahan di Kabupaten Gowa. Tanah lapang, rawa rawa, perkebunan warga bahkan sawah menjadi sasaran pembangunan. Dampaknya, diduga pembangunan semrawut menjadi salah satu penyebab banjir tak terelakkan di tahun 2019 silam yang bahkan memakan korban hingga 12 orang.

Hal ini pula yang menjadi kekhawatiran terbesar Dg Lewa, alam sudah tak seimbang lagi, lahan garapan petani setiap tahunnya berkurang dibarengi dengan minat generasi muda yang semakin enggan menjadi petani.

“Dahulu kami melihat tanah garapan sebagai harta berharga yang harus dijaga, tetapi semakin kesini semakin sulit mempertahankannya. Banyak juga yang mempertahankan sawah miliknya, namun tandus akibat tercemar karena sistem perairan yang sudah tak normal lagi seperti sedia kala,” ungkapnya sedih.

Semua semakin samar lantaran anak cucu yang disebut milenial ‘ogah’ menjadi petani, “Pekerjaan petani bagi mereka tidak keren, banyak juga yang mengambil jurusan pertanian di Perguruan Tinggi tetapi lebih memilih berbisnis ketimbang bertani,” sebutnya.

Kekeh bertahan dan bertekad merawat harta peninggalan nenek moyang menjadi satu satunya upaya yang dapat dilakukan Dg Lewa. Dirinya terus berusaha merawat padinya dan bercocok tanam tanaman lain seperti jagung, sayur kacang juga ubi jalar, tergantung tanaman mana yang harga jualnya sedang tinggi. Intinya mencari penghidupan dan tetap memeluk tanah moyang agar alam tetap seimbang dan menjalankan fungsinya.

Upaya dan kerja keras Dg Lewa mempertahankan sawah miliknya semakin diamini ketika sebuah Pertashop bernomor 9200 hadir di sekitar persawahan Borongloe, mungkin sekitar pertengahan 2021 lalu. Bagi Dg Lewa itu sangat membantu petani.

“Memang menggunakan motor sangat membantu, masalahnya tempat pengisian bahan bakar utama Pertamina sangat jauh, sekitar 10 km dari rumah saya. Tetapi dengan adanya Pertashop sangat memudahkan kami, apalagi karena posisinya dekat sekali dengan sawah, tinggal jalan sedikit bisa isi bensin. Dulu isi Rp10.000 dari SPBU pulang ke sawah bahan bakarnya sisa sedikit, sekarang isi Rp10.000 bisa dipakai lama,” ujarnya

Adanya Pertashop ini, tak lagi membuat dirinya dan para petani kesusahan, serta tak perlu lagi khawatir motor bebek kesayangannya mogok di tengah jalan karena kehabisan bahan bakar. Dirinya juga bisa bolak-balik dari sawah ke rumah untuk mengangkut hasil panennya.

Ia lantas berharap dengan adanya kemudahan ini bisa membuat milenial paham bahwa saat ini bertani sudah amat mudah dan bisa menjadi salah satu pilihan pekerjaan yang menjanjikan. “Alhamdulillah membantu sekali,” katanya.

Senior Supervisor Communication & Relation Pertamina Regional Sulawesi, Taufiq Kurniawan membenarkan kehadiran Pertashop di beberapa daerah yang diperkirakan sangat di butuhkan masyarakat.

“Program Pertashop ini digagas Pertamina pada 2019 lalu. Saat ini total ada 250an Pertashop di Sulsel hasil kerjasama dengan UMKM. Sangat mudah untuk membangun Pertashop, syarat umumnya hanya tanah tempat Pertashop di bangun serta modal awal,” terang Taufik, Rabu (29/9/2021).

Kini, semangat Dg Lewa membara bak petani sejati lainnya, dirinya kekeh mempertahankan tanah garapan sedari nenek moyangnya dulu. Petani adalah pengukir budaya, penjaga keseimbangan alam. Bahwa Indonesia adalah negara dengan makanan pokok nasi, itu harga mati bagi Dg Lewa dan seluruh petani di Indonesia.

“Sawah Borongloe adalah tanah warisan dan petani adalah pekerjaan terhormat, banyak yang memandang sebelah mata namun kami sangat menghargai pekerjaan ini. Semoga anak muda paham akan hal ini dan dapat melestarikan profesi petani. Yang terpenting dapat menjaga sawah sawah agar tidak lagi tertimbun,” tutupnya. (*)