oleh

Eks Wagub Terseret Dugaan Korupsi Alkes di RSKD Fatimah

Any Ramadhani-Headline-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Mantan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Agus Arifin Nu’mang (AAN) terseret kasus dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan (Alkes) di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti Fatimah Makassar.

Mantan orang nomor dua di Sulsel itu telah menjalani pemeriksaan sebagai saksi di Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sulawesi Selatan (Sulsel), Kamis (11/11/2021).

Berdasarkan pantauan, Agus AN diperiksa sejak siang hingga sore hari sekira pukul 16.00 Wita. Ini merupakan pemeriksaan kedua terhadap Agus Arifin Nu’mang. Sebelumnya, pada Senin, 8 November lalu, ia juga diperiksa Ditreskrimsus Polda Sulsel dalam kasus ini.

Kasubdit III Tipikor Ditreskrimsus Polda Sulsel, Kompol Fadli membenarkan adanya pemeriksaan tersebut. “Pemeriksaan (Agus) sementara berproses,” ujarnya.

Modus yang digunakan pelaku untuk mengadakan alat kesehatan di Rumah Sakit Fatimah, Makassar yang dinilai ganjal tersebut, kata Fadli, adalah Mark Up dan Black Market.

“Alkes (Alat Kesehatan) modusnya Mark Up dan Black Market,” ungkap Fadli.

Kompol Fadli mengatakan, beberapa mantan pejabat Provinsi Sulsel juga sudah di ambil keterangannya. Mulai dari Direktur
hingga PPK dan PPTK.

“Direktur rumah sakit sudah kita periksa dan PPK, PPTK. Bahkan AAN telah diperiksa sebagai saksi. Termasuk tempat pembelian alat kesehatan di Jakarta dan kementerian,” kata Fadli.

Menurut Fadli, sekitar 30 saksi yang telah dimintai keterangannya terkait pengadaaan Alkes RS Fatima 2016 itu. Pihaknya menduga ada indikasi mark up dan kerugian negara mencapai miliaran rupiah.

Terkait penetapan tersangka, Fadli mengaku belum bisa menjelaskan lebih detail. Pasalnya, kasus ini sementara masih diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI untuk menghitung berapa kerugian yang ditimbulkan.

“Sementara audit dengan BPK RI. Kalau ada hasil audit baru bisa (ditetapkan tersangka), kalau masih sidik berarti masi pemeriksaan, bagaimana kita mau tentukan tersangka, hasil kerugiannya belum ada,” ujarnya.

Intinya kata dia, kasus ini ada dugaan mark-up dalam pengadaan alkes tersebut dan diperkirakan ada kerugian negara miliaran rupiah didalam proyek pengadaan yang dianggarkan Rp20 miliar lebih itu.

“Kami belum pastikan kerugiannya karena masih dihitung BPK. Tetapi anggaran alkes ini Rp20 miliar lebih,” sebut Fadli.

Terpisah, Direktur Lembaga Anti Korupsi Sulsel (Laksus) M Ansar mengatakan, sikap Polda Sulsel perlu diapresiasi dalam memberantas kasus korupsi di Sulsel.

Dalam kasus ini kata dia, bisa jadi bukti keseriusan Polda sulsel dalam menuntaskan kasus dugaan korupsi pengadaan khusunya Alkes RS Fatimah ini.

“Namun kita berharap tidak ada tebang pilih dalam penetapan para tersangka nantinya,” pesannya.

Ia juga berharap kasus-kasus lain yang selama ini cukup lama di Polda untuk segera diselesaikan. Sebab korupsi ini adalah kejahatan luar biasa dan perlu ditindak dengan luar biasa pula.

“Jadi harus dituntaskan, dan jangan diberikan cela pada mereka (koruptor),” kuncinya. (*)