oleh

Ditopang Digitalisasi, Ekonomi Diprediksi Tumbuh 6 Persen

Any Ramadhani-Ekobis, Headline-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Ekonomi Sulawesi Selatan diperkirakan bakal tumbuh 5-6 persen di tahun 2022 mendatang.

Perbaikan pertumbuhan ekonomi itu diperkirakan akan ditopang oleh beberapa lapangan usaha utama seperti pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan seiring dengan perbaikan konsumsi masyarakat.

Meningkatnya aktivitas perekonomian seperti pembangunan infrastruktur, peningkatan kapasistas industri pengolahan, perbaikan kinerja perdagangan, serta peningkatan aktivitas kedinasan pasca relaksasi pembatasan fisik juga diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di Sulsel pada tahun 2022.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Selatan, Causa Iman Karana mengungkapkan, selain aktivitas usaha tersebut, upaya lain yang menjadi kunci peningkatan pertumbuhan ekonomi adalah mengoptimalkan pemerataan kegiatan ekonomi digital.

Melalui Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI 2025), kata Iman, Bank Indonesia berupaya untuk mengakselerasi digitalisasi perekonomian melalui integrasi ekonomi dan keuangan digital, sehingga diharapkan dapat menciptakan ekosistem ekonomi keuangan yang inklusif.

Salah satu terobosan digitalisasi sistem pembayaran yang terus didorong belakangan ini adalah Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS. Layanan ini terus berkembang sepanjang tahun 2021.

“Peningkatan merchant QRIS secara konsisten di tahun 2021 telah mendorong Sulawesi Selatan mencapai target merchant QRIS sebesar 400 ribu merchant pada akhir Oktober 2021. Jumlah merchant QRIS di Sulsel mencapai 44% dari total UMKM di Sulsel, sehingga potensi peningkatan jumlah merchant ke depannya masih terbuka,” ungkap Iman dalam Outlook Ekonomi Sulsel 2022 di Four Points by Sheraton Makassar, belum lama ini.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan, Fadjar Majardi menambahkan, pandemi Covid-19 telah mengubah tatanan kehidupan dan pemanfaatan teknologi digital dalam aktivitas sehari-hari, termasuk aktivitas ekonomi.

Sehingga, digitalisasi memberikan harapan geliat ekonomi yang lebih baik di tengah gerakan contactless untuk memutus penyebaran pandemi.

Perubahan besar ini diprakirakan akan menghasilkan landscape sektor perekonomian yang memiliki empat karakteristik, yaitu Hygiene, Less-Touch, Less-Crowd, dan Low-Mobility.

“Covid-19 mengakselerasi adopsi digital bahkan jauh lebih cepat dibandingkan dengan capaian historisnya. Perubahan perilaku konsumen ini diprakirakan akan menjadi next normal,” ungkap Fadjar.

Kondisi ini, lanjut dia, menjadi momentum peningkatan ekonomi digital. Sepanjang pandemi, terdapat 21 juta pengguna digital baru di Indonesia. Selain itu, Gross Merchandise Value (GMV) sektor digital indonesia juga diprakirakan meningkat 49% (yoy) atau 70 miliar USD pada tahun 2021 ini.

“Sulawesi Selatan berpotensi mengoptimalkan momentum tersebut. Hal ini didukung oleh Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IP-TIK) Suslel meningkat lebih tinggi dibandingkan dengan nasional,” jelasnya.

Sementara Pakar Ekonomi Universitas Hasanuddin (Unhas), Anas Iswanto Anwar mengungkapkan, ketika dunia usaha didorong ke arah digitalisasi, ada dua hal yang perlu diperhatikan, yakni konsumen dan produsen.

Anas menilai, kondisi yang tercermin saat ini adalah masih rendahnya literasi digital dan adopsi digitalisasi UMKM. Kemudian, pengelolaan bisnis juga belum memanfaatkan digitalisasi secara optimal, dan biaya implement promosi masih cukup tinggi.

“Sehingga perlu penyediaan program untuk adopsi dan adaptasi digitalisasi UMKM, penyediaan wadah bagi UMKM untuk ekspansi ke pasar domestik dan luar negeri, juga upaya memfasilitasi model bisnis digital melalui platform yang tersedia,” bebernya.

Dengan begitu, alumni S2 Ekonomi Politik Internasional, Griffith University, Australia, ini mengatakan, literasi digital, adopsi digitalisasi dan kapasitas UMKM bisa meningkat, dan jaringan distribusi lokal dan global juga bisa terkoneksi dengan biaya terjangkau.

“Dengan begitu, juga tersedia model bisnis digital yang mudah dan terintegrasi untuk mendukung inclusive growth,” pungkasnya. (*)