oleh

Ditolak Sopir Pete-Pete, Teman Bus Butuh Regulasi Trayek

Any Ramadhani-Headline, Metro-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Operasional Teman Bus berhenti sementara. Kehadiran transportasi berkonsep buy the service (atau pembelian layanan) mendapat penolakan dari sopir angkutan umum (Pete-pete).

Kepala Dinas Perhubungan Sulsel Muhammad Arafah mengatakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan akan segera mengoperasikan kembali Teman Bus Trans Mamminasata dengan penyederhanaan sejumlah rute yang turut dilalui jalur angkutan umum pete-pete.

“Rutenya yang disederhanakan. Artinya beberapa rute Teman Bus akan disederhanakan agar tidak terlalu bersinggungan dengan jalurnya pete-pete. Ini sudah dibicarakan dan bus ini akan segera kembali beroperasi,” kata Arafah.

Pengamat Transportasi Universitas Muslim Indonesia (UMI) Lambang Basri mengatakan seharusnya sebelum Teman Bus diluncurkan sinergitas sistem jalur transportasi umum sudah diselesaikan.

“Kemarin kita harapkan, Teman Bus di-launching setelah trayek feeder terintegrasi dengan Teman Bus itu sudah dipastikan. Jangan sampai berhimpitan terus,” ungkapnya, Selasa (21/12/2021).

Lambang Basri menyebutkan Teman Bus merupakan transportasi layanan publik yang diperuntukkan pada jalur-jalur utama atau rute primer.

“Teman Bus itu hadir untuk layanan publik, persoalannya kenapa dikatakan itu mengambil rute pete-pete padahal tidak. Dia itu hadir untuk menggunakan rute utama. Jadi rute yang dimaksud rute utama itu adalah rute primer, jadi jalan bandara, jalan provinsi, pokoknya jalan utama,” ucapnya.

Selain itu, Ia juga menyayangkan adanya perselisihan antara sopir pete-pete dan teman bus.

Menurutnya, sesama penyedia transportasi layanan publik seharusnya saling mendukung. Lambang Basri menegaskan perselisihan ini akibat tidak tersistemnya jalur yang digunakan sehingga sopir bus dan pete-pete saling berebut penumpang di jalur yang sama.

“Jangan sampai berhimpitan terus. Karena mereka berhimpitan makanya dia merebut penumpang yang sama. Itu salah, mestinya saling memberi dukungan satu sama lain, satu layanan penumpang jarak jauh, satu penumpang yang melintasi interkoleksius yang namanya tider,” jelasnya.

Lambang Basri juga mengatakan perlunya kehadiran pemerintah untuk menyikapi persoalan pendapatan menurun yang dikeluhkan sopir angkutan umum.

“Jadi mungkin dipolarisasi dengan format subsidi bertahap. Subsidi dihentikan saat masyarakat sudah paham jalur pete-pete. Kalau saya mau ke sini naik pete-pete dulu baru naik bus dan sebaliknya,” lanjutnya.

Lambang Basri menegaskan mengenai masyarakat mempunyai hak untuk memilih moda transportasi mana yang akan mereka gunakan.

“Makanya mestinya bertemu antar pimpinan untuk segera melakukan retrayek mengatur dia (sopir angkutan umum). Atas perubahan itu supaya pendapatannya tidak berkurang dijamin,” tutupnya.

Sementara, Pengamat Transportasi Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Sakti Adji Adisasmita mengatakan meski Teman Bus dan angkutan umum berada di jalur yang sama tetapi penumpang yang memilih. Karena menurutnya, semakin banyak pilihan semakin bagus.

“Sekarang penumpang memilih, tergantung pilihan penumpang yang mana yang dia mau pilih. Makanya harus meningkatkan pelayanan,” ujarnya. (*)