oleh

Nataru Tanpa Hura-hura

Any Ramadhani-Headline-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Momentum libur Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 dipastikan tanpa pesta kembang api. Itu lantaran pemerintah melarang perayaan pesta kembang api, pawai, dan arak-arakan saat libur Nataru.

Pelaksana tugas (Plt) Andi Sudirman Sulaiman mengimbau masyarakat untuk wajib menaati peraturan Nataru 2021 sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan dalam instruksi Kemendagri juga edaran Gubernur serta Bupati/walikota se-Sulawesi Selatan.

“Hal tersebut dalam rangka penanggulangan Covid-19, apalagi diketahui varian baru omicron telah masuk di Indonesia. Tentu kita sadari bersama varian baru Omicron telah diidentifikasi masuk di Indonesia, dan kita berharap mudah-mudahan Sulawesi Selatan tetap dilindungi dan tetap dalam suasana tenang dan paling penting bagaimana warga masyarakat tetap patuh,” ungkapnya.

Maka dari itu, Andi Sudirman menyampaikan harapannya kepada TNI-Polri dan seluruh instansi terkait untuk mengawal dengan baik perayaan Nataru 2021 secara aman, tertib dan lancar.

Tak hanya itu, masyarakat juga diharapkan mampu ikut turut membantu menjaga keamanan lingkungan. “Karena proses pengamanan tidak akan berjalan dengan lancar jika tanpa adanya dukungan dari lapisan masyarakat,” tegasnya.

Adapun aturan terbaru dalam rangka menghadapi Nataru, diantaranya, perayaan tahun baru dilarang dibeberapa tempat seperti hotel, mall, tempat wisata, dan tempat keramaian umum lainnya termasuk pengadaan panggung hiburan, petasan, arak-arakan, pawai dan lainnya yang dapat menimbulkan kerumunan.

Kemudian, kapasitas maksimal pengunjung tempat keramaian seperti pusat perbelanjaan dan mall tetap harus dalam kondisi pada situasi 75 persen pengunjung.

Dengan menerapkan sistem buka tutup. Serta pengunjung wajib menggunakan aplikasi PeduliLindungi semua tempat termasuk rumah makan, pusat perbelanjaan/mall dan lainnya sehingga mudah mengontrol warga masyarakat.

Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar juga memastikan tak ada perayaan tahun baru di ruang-ruang publik. Sejumlah titik yang berpotensi menimbulkan keramaian bakal diperketat dengan pengawasan dari aparat dalam periode 24 Desember 2021 hingga 2 Januari 2022.

Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan “Danny” Pomanto mengatakan, langkah itu ditempuh berdasarkan pengalaman di tahun sebelumnya yang terjadi lonjakan kasus pasca momen Natal dan Tahun Baru (Nataru).

“Kami tidak mau lengah. Kami tidak mau kebobolan soal kerumunan seperti tahun lalu,” jelas Danny, sapaan akrabnya.

“Kesimpulannya adalah tidak ada perayaan tahun baru di Kota Makassar. Kami mengimbau perayaan tahun baru di rumah masing-masing dengan keluarga,” imbuhnya.

Yang tak kalah pentingnya, kata Danny, langkah ini juga sebagai upaya preventif dalam mengantisipasi varian baru Covid-19, yakni Omicron, yang dilaporkan sudah masuk ke Indonesia. Oleh karena itu, vaksinasi juga terus dikebut bahkan ditarget dapat tercapai 90 persen hingga akhir tahun ini.

Pelaksana tugas Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes), Nursaidah Sirajuddin menambahkan, sejauh ini belum ada laporan terkait penyebaran Omicron di Makassar.

Meski begitu, pihaknya tetap melakukan tracing (penelusuran) dan testing bagi yang terkonfirmasi sesuai data dan laporan yang ada.

“Kami juga sudah koordinasi dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) dan bandara, mereka sudah lakukan pengamanan di pintu masuk di bandara dan pelabuhan, dilakukan tes dari orang yang dicurigai dari negara asal Omicron ini,” jelasnya.

Sekitar 100 petugas kesehatan dari 47 puskesmas juga bakal disebar di beberapa posko pelayanan kesehatan selama masa Nataru. Kata Ida, pihaknya menyediakan dua jenis posko yakni posko pelayanan terpadu dan posko khusus 24 jam.

“Posko pelayanan terpadu beroperasi dari pagi sampai pukul 9 malam. Setiap posko ada 1 tim yang terdiri atas 3 orang, yakni dokter, perawat, dan sopir,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala Kepolisian Resort Kota Besar Makassar, Kombes Pol Witnu Urip Laksana mengatakan, sebanyak 2.043 personel gabungan akan diturunkan dalam Operasi Lilin untuk mengamankan sejumlah titik pada momen Nataru.

Personel terdiri dari 131 anggota TNI, 1.196 dari Polrestabes Makassar, 531 dari Polda Sulsel dan ditambah 185 personil Satpol-PP Pemkot Makassar.

“Personil gabungan ini akan bertugas dalam mengamankan sejumlah tempat ibadah seperti gereja dan daerah keramaian dan lokasi vital lainnya,” ujarnya.

Rekayasa lalu lintas juga bakal diterapkan di sejumlah ruas jalan. Bentuknya bisa berupa penyekatan ataupun penutupan arus. Salah satu yang jadi titik fokus adalah sepanjang jalan Metro Tanjung Bunga hingga Jalan Penghibur.

“Ini agar mencegah masyarakat untuk datang dan berkerumum di titik rawan. Beberapa di antaranya di CPI, sepanjang Tanjung Bunga masuk ke CPI, kemudian masuk ke Penghibur sampai Rotterdam. Kami akan lakukan rekayasa sehingga tidak ada masyarakat yang datang ke strong point ini,” bebernya.

Selain itu, beberapa jalan protokol yang dianggap berpotensi menjadi titik kumpul juga tidak luput dari pengawasan ketat, seperti di Jalan Urip Sumoharjo dan AP Pettarani.

Tak berhenti sampai di situ, perayaan kembang api dan petasan juga dilarang. Masyarakat yang kedapatan menjual ataupun menggunakan petasan maupun kembang api akan ditindak sesuai undang-undang yang berlaku.

“Kami akan lakukan operasi cipta kondisi untuk gangguan penyakit masyarakat termasuk petasan, kami akan tindak sesuai UU yang berlaku,” urainya.

Khusus untuk pengamanan ibadah Misa Natal, personel akan ditempatkan pada 31 gereja yang tersebar di sejumlah titik Kota Makassar. Pengamanan dilakukan untuk memberi rasa aman bagi umat Kristiani dalam menjalani rangkaian ibadah Natal.

“Kami sesuai dengan SOP, kami koordinasi dengan pengurus gereja setempat sebelum melakukan pengamanan, apakah kami lakukan sterilisasi, atau patroli di sekitar gereja untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” jelas Witnu.

“Tetapi kami juga memberi imbauan kepada seluruh pengurus pimpinan gereja agar ibadah natal bisa dilakukan secara hybrid, luring dan daring karena ini diatur juga dalam instruksi Mendagri,” pungkasnya.

Kepala Sub Bagian Hubungan Masyarakat Polrestabes Makassar, AKP Lando menambahkan, selain pesta kembang api dan petasan, konvoi juga termasuk salah satu kegiatan yang dilarang dalam perayaan Nataru.

“Yang dilarang adalah, pawai (konvoi), kerumunan dan pesta kembang api apalagi petasan,” kata Lando.

Lando menyampaikan agar masyarakat juga tidak menjual petasan dan kembang api. Terkhusus pada anak-anak di bawah umur yang bisa mengancam keselamatan jiwanya. “Kalau ada yang jual kita akan razia. Itu dilarang,” tegas dia. (*)