oleh

Pensiunan Pegawai Rumah Sakit Jadi Pemilah Sampah, Diupah Rp50 Ribu Per Hari

Any Ramadhani-Metro-

MAKASSAR, BACAPESAN.COM – Pensiun dari pekerjaan lalu menikmati hari tua dengan bahagia tanpa bekerja lagi menjadi impian semua orang. Namun pada kenyataanya, ada banyak orang yang masih harus mencari pekerjaan setelah pensiun. Salah satunya, Nuhrija.

Wanita berusia 63 tahun ini merupakan pensiunan pegawai sebuah rumah sakit swasta di Makassar. Di usia yang sudah paruh baya itu, tak membiarkan dirinya berdiam di rumah. Setiap hari, dia jadi pemilah sampah di salah satu gudang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa Antang, Kecamatan Manggala, Makassar.

Nuhrija mengaku terpaksa menjalani profesi tersebut lantaran kebutuhan hidup yang mendesak. Sementara dirinya sudah tidak tidak lagi mendapatkan uang pensiunan laiknya purnabaksi Aparatur Sipil Negara (ASN).

“Yah beginilah hidup harus dijalani ini karena tidak ada gaji pensiunan. Saya sempat mencari pekerjaan lain yang lebih layak tapi tidak ada yang mau terima karena usia saya yang sudah tua,” tutur Nuhrija yang ditemui saat sedang beristirahat, beberapa waktu lalu.

Wanita sepuh ini sudah dua tahun lebih memilah sampah. Dia keluar rumah sejak pukul 8 pagi dan pulang sore. Istirahatnya hanya makan siang.

Dalam sehari Nuhrija mendapat upah sebesar Rp50 ribu. Pembayaran dari hasil memilah sampah botol plastik, kaleng, dan kertas itu biasanya dibayarkan di akhir pekan atau setelah bekerja selama satu Minggu.

Namun bila ada kebutuhan mendadak di rumah, wanita sepuh ini mengaku sering meminta upahnya lebih awal.

“Kami digaji per hari, pembayarannya hari Sabtu. Tapi saya biasa minta duluan sama bos kalau ada keperluan,” kata Nuhrija.

Aroma khas TPA Tamangapa bagi wanita single parent ini sudah hal biasa baginya. Dua anak lelakinya di rumah jadi penyemangat dalam menjalani pekerjaan itu.

Suaminya yang dulunya juga bekerja di rumah sakit yang sama sebagai sopir antar pegawai sudah meninggal. Bahkan sebelum meninggal, suaminya terpaksa pensiun dini akibat penyakit yang diderita.

“Saya punya anak tiga, satu perempuan tapi sudah menikah, dia tinggal sama suaminya di Gowa. Sisa dua di rumah, laki-laki. Sempat juga cari-cari kerja tapi belum dapat, jadi saya yang membiayai mereka,” beber dia.

Nuhrija pensiun dari rumah sakit. Dia akhir masa pengabdiannya, dia diberi pesangon Rp100 juta. Uang itulah yang dimanfaatkan untuk membeli rumah di Tamangapa, tak jauh dari tempat dia bekerja saat ini.

“Dul usuami saya punya rumah di Jalan Kumala. Tapi sudah dijual,” kata dia.

Meski profesinya saat ini terbilang jauh beda pada saat bekerja di rumah sakit namun dia mengaku tetap bersyukur. Selain tetap produktif, dia juga mengaku dapat banyak teman baru.

Pada anak-anaknya Nuhrija juga berpesan, agar selalu bersyukur dan tak boros. Mengingat kehidupannya yang dulu terbilang berkecukupan kini sudah berubah.

“Saya juga selalu sampaikan sama anakku, jaganki samakan hidupta yang dulu dengan sekarang karena bedami keadaanya,” imbuh dia. (*)